Kamis, 03 September 2020
Senin, 03 Oktober 2016
Kenapa batuk Darah ?
![]() |
| rontgen toraks PA |
Gambar rontgen toraks di atas adalah gambaran rontgen pasien batuk darah, dengan riwayat makan oat selama 6 bulan, sepuluh tahun yang lalu.
Sabtu, 16 Agustus 2014
Kamis, 14 Agustus 2014
Guna EKG ( Rekam Jantung )
Kegunaan EKG adalah untuk mengetahui kelainan-kelainan irama jantung (aritmia), kelainan-kelainan miokardium (infark, hipertrophy atrial dan ventrikel), mengetahui adanya pengaruh atau efek obat-obat jantung, mengetahui adanya gangguan elektrolit dan adanya gangguan perikarditis
Label:
ekg,
muhibat,
rejang,
rsud curup
Rabu, 04 Juni 2014
Sayur Yang Dihindari Penderita Asam Urat
Selain harus mengurangi konsumsi jeroan, ayam kalkun dan beberapa
jenis ikan, coklat , penderita asam urat juga harus mengurangi makan sayuran
tertentu.
Asam urat adalah produk sampingan dari metabolisme purin. Kebanyakan makanan tinggi purin adalah daging, seperti daging sapi, hati, kalkun dan beberapa ikan. Namun, ada beberapa sayuran yang tinggi purin dan akan memicu peningkatan jumlah asam urat dalam tubuh.
Asam urat akan mengkristal dan terkumpul di persendian dan organ lain seperti ginjal, telinga, menyebabkan inflamasi (peradangan) dan pembengkakan yang merupakan tanda-tanda dan gejala klasik asam urat. Istilah medis untuk terlalu banyak asam urat di aliran darah adalah hyperuricemia.
Beberapa sayuran yang sebaiknya dipantang oleh penderita asam urat antara lain bayam, asparagus, kembang kol, jamur, kangkung, buah melinjo, kacang-kacangan.
Asam urat adalah produk sampingan dari metabolisme purin. Kebanyakan makanan tinggi purin adalah daging, seperti daging sapi, hati, kalkun dan beberapa ikan. Namun, ada beberapa sayuran yang tinggi purin dan akan memicu peningkatan jumlah asam urat dalam tubuh.
Asam urat akan mengkristal dan terkumpul di persendian dan organ lain seperti ginjal, telinga, menyebabkan inflamasi (peradangan) dan pembengkakan yang merupakan tanda-tanda dan gejala klasik asam urat. Istilah medis untuk terlalu banyak asam urat di aliran darah adalah hyperuricemia.
| BAYAM |
Senin, 26 Mei 2014
Penyakit Gonore
Gonore merupakan infeksi bakteri Neisseria Gonorhoeae yang terjadi pada alat kelamin, dubur atau tenggorokan, mata.
Gonore dapat menular kalau seseorang melakukan hubungan seks vaginal, dubur atau mulut dengan seseorang yang sudah mengalami infeksi tersebut tanpa memakai kondom.
Untuk laki-laki yang mengalami infeksi saluran kencing, gejala-gejalanya biasanya muncul dalam waktu 2-10 hari setelah terinfeksi, namun terkadang gejalanya hanya muncul setelah beberapa bulan.
- Biasanya penyakit ini menunjukkan gejala setelah 2-10 hari berkontak yang menderita penyakit ini.Pada laki-laki umumnya penyakit ini ditandai dengan radang saluran keluar air seni dengan gejala nyeri sewaktu berkemih dan mengeluarkan cairan putih dari saluran kemihnya.Namun pengeluaran cairan putih, ataupun yang kuning, yang kental ataupun yang encer bisa disebabkan oleh kuman lain, sehingga sifat cairan ini tidak memastikan penyakit ini.
- Sedangkan pada wanita menunjukkan gejala nyeri pada perut bagian bawah, keputihan dan kadang-kadang pendarahan yang tidak normal dari rahim serta rasa tak nyaman pada liang dubur.Namun semua gejala itu pun tidak khas bagi gonore, ia bisa juga disebabkan oleh penyakit lain sehingga perlu diperiksa dengan teliti.
- Pada wanita infeksi gonore bisa berlanjut menjadi peradangan alat dalam panggul yang menjalar dari bibir rahim, kedalam rahim, ke saluran telur dan keseluruh alat dalam panggul, biasanya terjadi selama haid.Gejala penyakit ini meliputi demam dan nyeri perut bagian bawah.Mungkin juga terdapat pengeluaran cairan kekuningan dari dalam bibir rahim dan nyeri tekan pada rahim pada waktu pemeriksaan dalam atas alat-alat panggul.Radang alat-alat panggul bisa menyebabkan sterilitas ( mandul ), kehamilan diluar kandungan ( ektopik ) dan nyeri panggul yang menahun.
- Selain komplikasi setempat pada laki-laki dan wanita, bisa juga terjadi komplikasi ditempat lain, akibat penyebarannya kuman gonore melalui darah, dan kira-kira 2/3 pasiennya wanita.Bisa terjadi radang sendi dan kulit yang ditandai demam, nyeri sendi dan bengkak sendi, menggigil serta kelainan kulit berbentuk gelembung dan nanah.Radang sendi melibatkan beberapa sendi, sering melibatkan sendi pergelangan tangan, jari-jari, sendi lutut dan sendi pergelangan kaki.Manifestasi lazim lainnya meliputi radang selaput pembungkus jantung ( perikarditis ), radang hati ( hepatitis ).Kadang-kadang terjadi radang lapisan dalam jantung dan selaput otak ( meningitis ).
Diagnosis Gonore ditegakkan berdasarkan hasil sampel yang diseka dari saluran kemih, dubur atau tenggorokan .Penting agar pasien tidak buang air kecil selama paling tidaknya 3 jam sebelum menjalani tesnya.
- Sudah sangat jelas bahwa jika anda ingin terhindar dari penyakit ini adalah hindari s*ks bebas dengan berganti-ganti pasangan yang bisa saja sudah terinfeksi kuman gonore.
- Hindari Perilaku s*ks yang menyimpang ( anal, oral ) yang makin meningkatkan risiko tertular kuman Gonore.
- Gunakan pelindung ( kondom ) sebelum berhubungan s*ks guna meminimalisir tertularnya kuman penyakit Gonore atau penyakit lainnya.
Senin, 24 Maret 2014
Selasa, 11 Maret 2014
Nefrosklerosis
Berat dan besar ginjal bervariasi; hal ini tergantung jenis kelamin,
umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi lain.Pada orang dewasa,
rata-rata ginjal memiliki ukuran panjang sekitar 11,5 cm, lebar sekitar 6
cm dan ketebalan 3,5 cm dengan berat sekitar 120-170 gram atau kurang
lebih 0,4% dari berat badan.
Nefrosklerosis, sebenarnya dignosis patologi anatomi. Pada pemeriksaan USG kita dapat juga mengukur ukuran ginjal.
Nefrosklerosis, sebenarnya dignosis patologi anatomi. Pada pemeriksaan USG kita dapat juga mengukur ukuran ginjal.
Jumat, 07 Maret 2014
Selasa, 04 Maret 2014
Efusi Pleura Dekstra
| Efusi Pleura Dekstra |
Pada pemeriksaan fisik didapat frekuensi nafas 30 kali permenit, stem fremitus melemah di paru kanan, perkusi pekak di paru kanan dan pada auskultasi suara nafas di paru kanan melemah.
Pasien dilakukan USG, didapat adanya cairan di pleura.
Sabtu, 22 Februari 2014
Rabu, 12 Februari 2014
Selasa, 12 November 2013
Selasa, 29 Januari 2013
TUBERKULOSIS PARU
Pengertian
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
Klasifikasi
Berdasarkan Organ yang Terinfeksi
TB PARU
TB EKSTRA PARU
Berdasarkan pemeriksaan dahak
TB Paru BTA + : sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum BTA positif
TB Paru BTA – : dari 3 spesimen sputum BTA negatif, foto toraks positif
Berdasarkan Tipe Pasien dan riwayat pengobatan
Kasus baru
Kasus kambuh (relaps)
Kasus drop out
Kasus gagal
Kasus kronik
Berdasarkan organ ekstra paru yang terserang
TB ekstra paru ringan : TB kelenjar limfe, TB tulang non-vertebra, TB sendi, TB adrenal
TB ekstra paru berat : meningitis, TB milier, TB diseminata, perikarditis, peritonitis, pleuritis, TB vertebra, TB usus, TB genitourinarius
Klasifikasi Tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis Association:
Tuberkulosis minimal (minimal tuberculosis)
Luas sarang – sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median,apeks, dan iga 2 depan; sarang – sarang soliter dapat berada dimana saja, tidak harus berada dalam daerah tersebut di atas. Tidak ditemukan adanya kavitas
Tuberkulosis Lanjut Sedang (Moderately advanced tuberculosis) :
Luas sarang – sarang yang bersifat bercak – bercak tidak melebihi luas satu paru, sedangkan bila ada lubang, diameternya tidak melebihi 4 cm. Kalau sifat bayangan sarang – sarang tersebut berupa awan – awan yang menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya tidak boleh melebihi luas satu lobus.
Tuberkulosis sangat Lanjut (Far advanced tuberculosis)
Luas daerah yang dihinggapi oleh sarang – sarang lebih daripada Moderately advanced tuberculosis, atau bila ada cavitas, maka diameter keseluruhan semua cavitas melebihi 4 cm.
Diagnosis
Dari anamnesis didapatkan gejala klinik berupa
1. Gejala respiratorik
Batuk-batuk > 2 minggu
Batuk darah
Sesak napas
Nyeri dada
2. Gejala sistemik
Demam
Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa, pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, Pada meningitis tuberkulosa sesuai gejala meningitis. Sementara pada pleuritis tuberkulosa gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan (tergantung derajat berat, organ terlibat dan komplikasi) : keadaan umum lemah, kaheksia, takipnea, febris, dan pada pemeriksaan fisik paru didapatkan tanda-tanda konsolidasi (dull, fremitus meningkat, suara napas bronchial atau melemah, ronchi basah/kering)
Dari pemeriksaan Laboratorium didapatkan LED meningkat
Dari pemeriksaan bakteriologik pemeriksaan Sputum (SPS) positif minimal 2 dari 3 spesimen dan untuk diagnosis pasti dilakukan kultur Mycobacterium tuberculosis positif
Dari pemeriksaan radiologik dilakukan Thorak PA, atau sesuai permintaan Top Lordotik, Lateral dan pemeriksaan CT Scan toraks
Dari pemeriksaan imunoserologis dilakukan tes Mantoux didapatkan positif > 15mm pada orang Indonesia yang imunokompeten
Diagnosis Banding
Pneumonia, infeksi jamur pada paru, tumor paru, penyakit paru akibat kerja
Pemeriksaan penunjang
• Laboratorium : LED
• Mikrobiologis : BTA sputum, kultur resistensi sputum
o Pada kategori 1 dan 3 : sputum BTA diulangi pada akhir bulan ke 2, 4, 6
o Pada kategori 2 : sputum BTA diulangi pada akhir bulan ke 2,5, 8
o Kultur BTA sputum diulangi pada akhir bulan kedua dan akhir terapi
• Radiologis : foto rontgen PA, lateral pada saat awal diagnosis dan akhir terapi dan selama terapi evaluasi foto setelah pengobatan 2 bulan dan 6 bulan.
• Imunoserologis : Mantoux, ELISA, ICT TB (Immunochromatographic tuberculosis), Mycodot
• Pemeriksaan Bactec
• Polymerase Chain Reaction
• Analisis cairan Pleura
• Pem. Histopatologi
Penatalaksanaan
Non medikamentosa
Diet TKTP
Surgical
Istirahat, stop merokok, hindari polusi, tatalaksana komorbiditas, vitamin
Medikamentosa
Pemberian OAT sesuai kategori
Pemberian obat simptomatik
Pencegahan
Non Medikamentosa
Gizi Seimbang
Olahraga teratur
Hindari kontak dengan penderita (masker)
Tidak merokok
Medikamentosa
Imunisasi BCG
Pemberian INH pada anak dengan riwayat kontak, skor TB 5
Upaya pengendalian TB dengan metode DOTS
Cegah terjadinya MDR dengan adanya Pengawas minum obat
Komplikasi
Komplikasi paru : atelektasis, hemoptisis, fibrosis, bronkiektasis, pneumothorax, gagal napas
Komplikasi ekstraparu : pleuritis, efusi pleura, perikarditis, peritonitis, TB KGB, kor pulmonal
Prognosis
Dubia : tergantung derajat berat, kepatuhan pasien, sensitivitas bakteri, gizi, status imun, komorbiditas
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
Klasifikasi
Berdasarkan Organ yang Terinfeksi
TB PARU
TB EKSTRA PARU
Berdasarkan pemeriksaan dahak
TB Paru BTA + : sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum BTA positif
TB Paru BTA – : dari 3 spesimen sputum BTA negatif, foto toraks positif
Berdasarkan Tipe Pasien dan riwayat pengobatan
Kasus baru
Kasus kambuh (relaps)
Kasus drop out
Kasus gagal
Kasus kronik
Berdasarkan organ ekstra paru yang terserang
TB ekstra paru ringan : TB kelenjar limfe, TB tulang non-vertebra, TB sendi, TB adrenal
TB ekstra paru berat : meningitis, TB milier, TB diseminata, perikarditis, peritonitis, pleuritis, TB vertebra, TB usus, TB genitourinarius
Klasifikasi Tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis Association:
Tuberkulosis minimal (minimal tuberculosis)
Luas sarang – sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median,apeks, dan iga 2 depan; sarang – sarang soliter dapat berada dimana saja, tidak harus berada dalam daerah tersebut di atas. Tidak ditemukan adanya kavitas
Tuberkulosis Lanjut Sedang (Moderately advanced tuberculosis) :
Luas sarang – sarang yang bersifat bercak – bercak tidak melebihi luas satu paru, sedangkan bila ada lubang, diameternya tidak melebihi 4 cm. Kalau sifat bayangan sarang – sarang tersebut berupa awan – awan yang menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya tidak boleh melebihi luas satu lobus.
Tuberkulosis sangat Lanjut (Far advanced tuberculosis)
Luas daerah yang dihinggapi oleh sarang – sarang lebih daripada Moderately advanced tuberculosis, atau bila ada cavitas, maka diameter keseluruhan semua cavitas melebihi 4 cm.
Diagnosis
Dari anamnesis didapatkan gejala klinik berupa
1. Gejala respiratorik
Batuk-batuk > 2 minggu
Batuk darah
Sesak napas
Nyeri dada
2. Gejala sistemik
Demam
Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa, pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, Pada meningitis tuberkulosa sesuai gejala meningitis. Sementara pada pleuritis tuberkulosa gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan (tergantung derajat berat, organ terlibat dan komplikasi) : keadaan umum lemah, kaheksia, takipnea, febris, dan pada pemeriksaan fisik paru didapatkan tanda-tanda konsolidasi (dull, fremitus meningkat, suara napas bronchial atau melemah, ronchi basah/kering)
Dari pemeriksaan Laboratorium didapatkan LED meningkat
Dari pemeriksaan bakteriologik pemeriksaan Sputum (SPS) positif minimal 2 dari 3 spesimen dan untuk diagnosis pasti dilakukan kultur Mycobacterium tuberculosis positif
Dari pemeriksaan radiologik dilakukan Thorak PA, atau sesuai permintaan Top Lordotik, Lateral dan pemeriksaan CT Scan toraks
Dari pemeriksaan imunoserologis dilakukan tes Mantoux didapatkan positif > 15mm pada orang Indonesia yang imunokompeten
Diagnosis Banding
Pneumonia, infeksi jamur pada paru, tumor paru, penyakit paru akibat kerja
Pemeriksaan penunjang
• Laboratorium : LED
• Mikrobiologis : BTA sputum, kultur resistensi sputum
o Pada kategori 1 dan 3 : sputum BTA diulangi pada akhir bulan ke 2, 4, 6
o Pada kategori 2 : sputum BTA diulangi pada akhir bulan ke 2,5, 8
o Kultur BTA sputum diulangi pada akhir bulan kedua dan akhir terapi
• Radiologis : foto rontgen PA, lateral pada saat awal diagnosis dan akhir terapi dan selama terapi evaluasi foto setelah pengobatan 2 bulan dan 6 bulan.
• Imunoserologis : Mantoux, ELISA, ICT TB (Immunochromatographic tuberculosis), Mycodot
• Pemeriksaan Bactec
• Polymerase Chain Reaction
• Analisis cairan Pleura
• Pem. Histopatologi
Penatalaksanaan
Non medikamentosa
Diet TKTP
Surgical
Istirahat, stop merokok, hindari polusi, tatalaksana komorbiditas, vitamin
Medikamentosa
Pemberian OAT sesuai kategori
Pemberian obat simptomatik
Pencegahan
Non Medikamentosa
Gizi Seimbang
Olahraga teratur
Hindari kontak dengan penderita (masker)
Tidak merokok
Medikamentosa
Imunisasi BCG
Pemberian INH pada anak dengan riwayat kontak, skor TB 5
Upaya pengendalian TB dengan metode DOTS
Cegah terjadinya MDR dengan adanya Pengawas minum obat
Komplikasi
Komplikasi paru : atelektasis, hemoptisis, fibrosis, bronkiektasis, pneumothorax, gagal napas
Komplikasi ekstraparu : pleuritis, efusi pleura, perikarditis, peritonitis, TB KGB, kor pulmonal
Prognosis
Dubia : tergantung derajat berat, kepatuhan pasien, sensitivitas bakteri, gizi, status imun, komorbiditas
Senin, 28 Januari 2013
efusi pleura
EFUSI PLEURA
Pengertian
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan di rongga pleura (Price and Wilson, 1995).
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Efusi pleura bukanlah suatu disease entity tapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita.
Terjadinya efusi pleura disebabkan oleh 2 faktor yaitu :
Infeksi :
- Tuberkulosis - Abses paru
- Pneumonitis - Abses subfrenik
Non infeksi :
- Karsinoma paru - Gagal ginjal
- Gagal hati - Hipotiroidisme
- Karsinoma mediastinum - Kilotoraks
- Tumor ovarium - Emboli paru
- Karsinoma pleura : primer dan sekunder
- Bendungan jantung : gagal jantung, perikarditis konstruktiva.
Etiologi
Menurut jenis cairan yang terakumulasi etiologi efusi pleura dapat dibedakan menjadi :
1. Transudat ( filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh ).
Penyakit yang menyertai transudat :
- Gagal jantung kiri. - Asites pada sirosis hati.
- Sindrom nefrotik. - Sindrom meig’s (asites dengan tumor
- Obstruksi vena kava superior. ovarium).
2. Eksudat ( ekstravasasi cairan kedalam jaringan ).
Cairan ini dapat terjadi karena adanya :
- Infeksi - Infark paru
- Neoplasma/tumor
Penyakit-penyakit dengan efusi pleura
• Pleuritis karena virus, mikoplasma, bakteri piogenik aerob dan anaerob, tuberkulosa, fungi (Actynomyosis, Koksidioimikosis, Aspergilus, Kriptokokus, Histoplasmosis,Blastomikosis), parasit (amoeba)
• Efusi karena kelainan intraabdomen yang terjadi karena reaksi infeksi atau peradangan di bawah diafragma seperti eksaserbasi akut pankreatitis kronik, abses ginjal, abses limpa, abses hati, sirosis hepar,Sindrom Meig, Dialisis peritoneal (selama dan sesudah dialysis peritoneal)
• Efusi pleura karena penyakit kolagen seperti lupus eritematosus, arthritis rematoid, skleroderma
• Efusi pleura karena gangguan sirkulasi seperti gangguan kardiovaskular (decompensatio cordis, sindroma vena cava superior, perikarditis konstriktiva), emboli, hipoalbuminemia
• Efusi pleura neoplasma seperti mesotelioma (tumor primer yang berasal dari pleura), karsinoma bronkus, neoplasma metastatic, limfoma maligna
• Efusi pleura karena sebab lain seperti trauma, uremia, miksedema, demam familial mediteranian, sarkoidosis, reaksi hipersensitif terhadap obat, sindrom dressler (pleuritis dan perikarditis dapat terjadi setelah 1-6 minggu serangan AMI, RJP atau operasi kardiotomi. Cairan pleura atau pericardium yang timbul bersifat eksudat, steril, berwarna serosa atau hemoragik. Keadaan ini disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas myocardium dan pericardium terhadap tindakan atau pengobatan. Terapinya simptomatik karena bersifat self-limited
• Efusi pleura idiopatik
Diagnosis
Dari anamnesis yang teliti untuk mencari secara jelas etiologinya. Pemeriksaan fisik dilakukan inspeksi tampak kesakitan dan terlihat gerak dada yang sakit tertinggal. Pada palpasi terasa gerakan dada pada sisi yang sakit tertinggal dan stem fremitus pada sisi yang sakit turun. Pada perkusi terdapat pekak pada basal paru yang sakit dan pada auskultasi terdapat VBS yang menghilang pada sisi yang sakit.
Pemeriksaan penunjang
• Imaging (foto rontgen thorax, CT scan, USG thorax)
• Torakosentesis (aspirasi cairan pleura) berguna untuk terapeutik dan diagnostik. Pelaksanaannya pasien duduk, aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior dengan menggunakan abbocath 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500cc pada setiap kali aspirasi karena bisa menyebabkan edema paru. Komplikasi dari tindakan ini adalah pneumothorax, hematothorax, emboli paru dan laserasi pleura viseralis. Untuk menegakkan diagnosis cairan pleura,dilakukan pemeriksaan warna dan jenis cairan (transudat, eksudat,hemoragik atau cylothorax), biokimia (kadar pH, glukosa, dan amylase, protein, LDH, BJ, Rivalta), sitologi, dan bakteriologi
• Biopsi pleura
• Untuk efusi yang sulit terdiagnosis bisa dilakukan analisis ulang, dan bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan tambahan yaitu bronkoskopi pada kasus neoplasma, korpus alienum, abses paru, scanning isotop pada kasus emboli paru, dan thoracoscopy (fiber-optic pleuroscopy) pada neoplasma dan tuberkulosis
Penatalaksanaan
• Oksigen
• Analisis gas darah
• Torakosintesis
• Water Sealed Drainage
• Tindakan operatif bila cairan pus nya kental sehingga sulit keluar atau bila emfiemanya multilokular
• Pengobatan antibiotika sistemik, tapi tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat
• Untuk mencegah relaps efusi pleura dapat dilakukan pleurodesis dengan cairan tetrasiklin, bleomycin, korinebakterium parvum, tio-tepa, 5-fluorourasil
Komplikasi
Komplikasi dari tindakan penatalaksanaan yaitu edema paru, pneumotoraks, hemothoraks, nyeri pleuritik, demam, bisa sampai syok neurogenik
Prognosis
Tergantung penyakit yang mendasarinya
Pengertian
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan di rongga pleura (Price and Wilson, 1995).
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Efusi pleura bukanlah suatu disease entity tapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita.
Terjadinya efusi pleura disebabkan oleh 2 faktor yaitu :
Infeksi :
- Tuberkulosis - Abses paru
- Pneumonitis - Abses subfrenik
Non infeksi :
- Karsinoma paru - Gagal ginjal
- Gagal hati - Hipotiroidisme
- Karsinoma mediastinum - Kilotoraks
- Tumor ovarium - Emboli paru
- Karsinoma pleura : primer dan sekunder
- Bendungan jantung : gagal jantung, perikarditis konstruktiva.
Etiologi
Menurut jenis cairan yang terakumulasi etiologi efusi pleura dapat dibedakan menjadi :
1. Transudat ( filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh ).
Penyakit yang menyertai transudat :
- Gagal jantung kiri. - Asites pada sirosis hati.
- Sindrom nefrotik. - Sindrom meig’s (asites dengan tumor
- Obstruksi vena kava superior. ovarium).
2. Eksudat ( ekstravasasi cairan kedalam jaringan ).
Cairan ini dapat terjadi karena adanya :
- Infeksi - Infark paru
- Neoplasma/tumor
Penyakit-penyakit dengan efusi pleura
• Pleuritis karena virus, mikoplasma, bakteri piogenik aerob dan anaerob, tuberkulosa, fungi (Actynomyosis, Koksidioimikosis, Aspergilus, Kriptokokus, Histoplasmosis,Blastomikosis), parasit (amoeba)
• Efusi karena kelainan intraabdomen yang terjadi karena reaksi infeksi atau peradangan di bawah diafragma seperti eksaserbasi akut pankreatitis kronik, abses ginjal, abses limpa, abses hati, sirosis hepar,Sindrom Meig, Dialisis peritoneal (selama dan sesudah dialysis peritoneal)
• Efusi pleura karena penyakit kolagen seperti lupus eritematosus, arthritis rematoid, skleroderma
• Efusi pleura karena gangguan sirkulasi seperti gangguan kardiovaskular (decompensatio cordis, sindroma vena cava superior, perikarditis konstriktiva), emboli, hipoalbuminemia
• Efusi pleura neoplasma seperti mesotelioma (tumor primer yang berasal dari pleura), karsinoma bronkus, neoplasma metastatic, limfoma maligna
• Efusi pleura karena sebab lain seperti trauma, uremia, miksedema, demam familial mediteranian, sarkoidosis, reaksi hipersensitif terhadap obat, sindrom dressler (pleuritis dan perikarditis dapat terjadi setelah 1-6 minggu serangan AMI, RJP atau operasi kardiotomi. Cairan pleura atau pericardium yang timbul bersifat eksudat, steril, berwarna serosa atau hemoragik. Keadaan ini disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas myocardium dan pericardium terhadap tindakan atau pengobatan. Terapinya simptomatik karena bersifat self-limited
• Efusi pleura idiopatik
Diagnosis
Dari anamnesis yang teliti untuk mencari secara jelas etiologinya. Pemeriksaan fisik dilakukan inspeksi tampak kesakitan dan terlihat gerak dada yang sakit tertinggal. Pada palpasi terasa gerakan dada pada sisi yang sakit tertinggal dan stem fremitus pada sisi yang sakit turun. Pada perkusi terdapat pekak pada basal paru yang sakit dan pada auskultasi terdapat VBS yang menghilang pada sisi yang sakit.
Pemeriksaan penunjang
• Imaging (foto rontgen thorax, CT scan, USG thorax)
• Torakosentesis (aspirasi cairan pleura) berguna untuk terapeutik dan diagnostik. Pelaksanaannya pasien duduk, aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior dengan menggunakan abbocath 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500cc pada setiap kali aspirasi karena bisa menyebabkan edema paru. Komplikasi dari tindakan ini adalah pneumothorax, hematothorax, emboli paru dan laserasi pleura viseralis. Untuk menegakkan diagnosis cairan pleura,dilakukan pemeriksaan warna dan jenis cairan (transudat, eksudat,hemoragik atau cylothorax), biokimia (kadar pH, glukosa, dan amylase, protein, LDH, BJ, Rivalta), sitologi, dan bakteriologi
• Biopsi pleura
• Untuk efusi yang sulit terdiagnosis bisa dilakukan analisis ulang, dan bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan tambahan yaitu bronkoskopi pada kasus neoplasma, korpus alienum, abses paru, scanning isotop pada kasus emboli paru, dan thoracoscopy (fiber-optic pleuroscopy) pada neoplasma dan tuberkulosis
Penatalaksanaan
• Oksigen
• Analisis gas darah
• Torakosintesis
• Water Sealed Drainage
• Tindakan operatif bila cairan pus nya kental sehingga sulit keluar atau bila emfiemanya multilokular
• Pengobatan antibiotika sistemik, tapi tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat
• Untuk mencegah relaps efusi pleura dapat dilakukan pleurodesis dengan cairan tetrasiklin, bleomycin, korinebakterium parvum, tio-tepa, 5-fluorourasil
Komplikasi
Komplikasi dari tindakan penatalaksanaan yaitu edema paru, pneumotoraks, hemothoraks, nyeri pleuritik, demam, bisa sampai syok neurogenik
Prognosis
Tergantung penyakit yang mendasarinya
Rabu, 04 Juli 2012
Jumat, 29 Juni 2012
Sengatan Panas
Sengatan panas atau Heatstroke, disebabkan oleh suhu lingkungannya yang tinggi, aktivitas tubuh yang tinggi yang menyebabkan suhu tubuh tinggi, bisa mencapai suhu 40 derajat celsius.
Gejala serangan heatstroke termasuk mual, kejang, kebingungan, disorientasi, kadang-kadang penurunan kesadaran sampai koma. Sengatan panas dapat menyebabkan kerusakan otak dan organ lainnya.
Gejalah yang timbul seperti, kelelahan berlebihan, sesak napas diikuti dengan sakit perut, gelisah, detak jantung cepat, pingsan dan mungkin muntah-muntah.
Penanganan sengatan panas adalah dengan minum air yang tidak terlalu dingin, karena air yang terlalu dingin akan memicu reaksi negatif tubuh.
Penderita sengatan panas dipindahkan di tempat yang dingin, longgarkan pakaiannya, dikupas tubuhnya, dikompres air hangat, kompres es. penderita diinfus dengan cairan NaCl fisiologis.
Kamis, 01 Desember 2011
Ginjal Bocor ?
Orang awam menyebutnya penyakit ginjal bocor, sedangkan istilah kedokterannya disebut sindrom nefrotik. sindrom nefrotik merupakan salah satu gambaran klinik penyakit glomerulus yang ditandai dengan proteinuria masif > 3,5 gram/24 jam/1,73 m3 disertai hipoalbuminemia, edema anasarka, lipiduria dan hiperkoagulabilitas. Yang dimaksud dengan bocor di sini adalah terdapatnya protein di urin, dimana seharusnya tidak dijumpai di urin. hal ini dikarenakan ginjal tak mampu menahan keluarnya protein dari ginjal.
Diagnosis
Edema dan asites akibat penyakit hati atau malnutrisi, dignosis etiologi SN.
Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis, ureum, kreatini, tes fungsi hati, profil lipid, DPL, elektrolit, gula darah, homeostasis, pemeiksaan imunologi, biopsi ginjal, protein urin kuantitatif.
Terapi
Nonfarmakologis
Diagnosis
- Anamnesis : bengkak seluruh tubuh, buang air kecil keruh
- Pemeriksaan fisik : edema anasarka, asites
- Laboratorium ; proteinuria masif > 3,5 gram/24 jam/1,73 m3, hiperlipidemia, hipoalbuminemia (<3,5 gram/dl), lipiduria, hiperkoagulabilitas. Diagnosis etiologi berdasar biopsi ginjal
Edema dan asites akibat penyakit hati atau malnutrisi, dignosis etiologi SN.
Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis, ureum, kreatini, tes fungsi hati, profil lipid, DPL, elektrolit, gula darah, homeostasis, pemeiksaan imunologi, biopsi ginjal, protein urin kuantitatif.
Terapi
Nonfarmakologis
- Istirahat
- Restriksi protein dengan diet protein0,8 gr/kgBB + ekskresi protein dalam 24 jam. Bila fungsi ginjal sudah menurun, diet protein disesuaikan hingga 0,6 kgBB ideal/hari + ekskresi protein urin/ 24 jam
- Berhenti merokok
- Diet rendah garam
Minggu, 13 November 2011
Keracunan Tetrin di RS DKT Curup
Seorang laki-laki, bujangan berumur 19 tahun, nekat minum racun tetrin kira-kira 2 sendok teh. Diduga nekat minum racun serangga ini karena putus cinta. Bujang nekat ini dilakukan bilas lambung oleh perawat emergensi RS DKT, dipasang infus.
Racun tetrin ini mengandung alfa sipermetrin 36 g/L. Merupakan racun kontak dan lambung, sedianya digunakan untuk membasmi ulat, serangga pada tanaman.
Kelompok insektisida ini mempunyai sifat khas untuk pengendalian serangga antara lain : efektifitas tinggi, kurang toksi terhadap mamalia, hilangnya efektifitas relatif cepat dan mempunyai efek Knock-Down cepat.
Sipermetrin suatu bahan kimia sentetis menyerupai pyerhrin pada ekstrak pyretrum yang berasal dari tanaman chrysanthemum.
Struktur kimia sipermetrin mengandung α-siano-3-fenoksibensil termasuk golongan piretroid. Piredtroid adalah racun axonix, yaitu beracun terhadapa serabut syaraf. Piretroid terikat pada protein pada syaraf yang dikenal sebagai voltage-gate sodiun chanel. Pada keadaan normal, protein membuka untuk memberikan rangsangan pada syaraf dan menghentikan sinyal syaraf. Piretroid terikat pada gerbang ini, dan mencegah menutup secara normal yang menghasilkan rangsangan syaraf secara berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan tremor dan gerakan in-koordinasi pada serangga.
Penanganan penderita dilakukan bilasan lambung dan terapi simptomatik pada penderita ini.
Racun tetrin ini mengandung alfa sipermetrin 36 g/L. Merupakan racun kontak dan lambung, sedianya digunakan untuk membasmi ulat, serangga pada tanaman.
Kelompok insektisida ini mempunyai sifat khas untuk pengendalian serangga antara lain : efektifitas tinggi, kurang toksi terhadap mamalia, hilangnya efektifitas relatif cepat dan mempunyai efek Knock-Down cepat.
Sipermetrin suatu bahan kimia sentetis menyerupai pyerhrin pada ekstrak pyretrum yang berasal dari tanaman chrysanthemum.
Struktur kimia sipermetrin mengandung α-siano-3-fenoksibensil termasuk golongan piretroid. Piredtroid adalah racun axonix, yaitu beracun terhadapa serabut syaraf. Piretroid terikat pada protein pada syaraf yang dikenal sebagai voltage-gate sodiun chanel. Pada keadaan normal, protein membuka untuk memberikan rangsangan pada syaraf dan menghentikan sinyal syaraf. Piretroid terikat pada gerbang ini, dan mencegah menutup secara normal yang menghasilkan rangsangan syaraf secara berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan tremor dan gerakan in-koordinasi pada serangga.
Penanganan penderita dilakukan bilasan lambung dan terapi simptomatik pada penderita ini.
Langganan:
Postingan (Atom)




