Senin, 03 Oktober 2016

Kenapa batuk Darah ?

rontgen toraks PA
Batuk darah atau disebut juga hemaptoe. Penyebab terbanyak karena infeksi, salah satu penyebabnya adalah bronkitis, TBC, pneumonia, abses paru dan lain-lain. Penyebab lain adalah tumor paru, penyakit jantung, kelainan pembuluh darah, kanker paru, gagngguan tenggorokan, kelainan darah.

Gambar rontgen toraks di atas adalah gambaran rontgen pasien batuk darah, dengan riwayat makan oat selama 6 bulan, sepuluh tahun yang lalu.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Dokter dan Paramedis di Ruang Raflesia RSUD Curup

Bik Jub, Dr.Putri dan Dr. nilta sedang santai

Kamis, 14 Agustus 2014

Guna EKG ( Rekam Jantung )

Kegunaan EKG adalah untuk mengetahui kelainan-kelainan irama jantung (aritmia), kelainan-kelainan miokardium (infark, hipertrophy atrial dan ventrikel), mengetahui adanya pengaruh atau efek obat-obat jantung, mengetahui adanya gangguan elektrolit dan adanya gangguan perikarditis 

Rabu, 04 Juni 2014

Sayur Yang Dihindari Penderita Asam Urat

Selain harus mengurangi konsumsi jeroan, ayam kalkun dan beberapa jenis ikan, coklat ,  penderita asam urat juga harus mengurangi makan sayuran tertentu.

Asam urat adalah produk sampingan dari metabolisme purin. Kebanyakan makanan tinggi purin adalah daging, seperti daging sapi, hati, kalkun dan beberapa ikan. Namun, ada beberapa sayuran yang tinggi purin dan akan memicu peningkatan jumlah asam urat dalam tubuh.

Asam urat akan mengkristal dan terkumpul di persendian dan organ lain seperti ginjal, telinga, menyebabkan inflamasi (peradangan) dan pembengkakan yang merupakan tanda-tanda dan gejala klasik asam urat. Istilah medis untuk terlalu banyak asam urat di aliran darah adalah hyperuricemia.
http://intisari-online.com//media/images/5116_bagaimana_memanfaatkan_bayam.jpg
BAYAM
Beberapa sayuran yang sebaiknya dipantang oleh penderita asam urat antara lain bayam, asparagus, kembang kol, jamur, kangkung, buah melinjo, kacang-kacangan.

Senin, 26 Mei 2014

Penyakit Gonore


Gonore merupakan infeksi bakteri Neisseria Gonorhoeae yang terjadi pada alat kelamin, dubur atau tenggorokan, mata. http://gfx.nrk.no/6f4T-3fX7hO7sTmO1heIeQoHkGnM8G7OxWImVPiSL1Ig.jpg
Penyakit ini disebabkan oleh kuman Neisseria Gonorhoeae ( gonococcus ), yang merupakan diplococcus gram negatif.Kuman ini terutama menginfeksi pada selaput lendir manusia, yaitu alat kelamin, liang dubur, selaput lendir mata, dan tenggorokan.
Gonore dapat menular kalau seseorang melakukan hubungan seks vaginal, dubur atau mulut dengan seseorang yang sudah mengalami infeksi tersebut tanpa memakai kondom.
Untuk laki-laki yang mengalami infeksi saluran kencing, gejala-gejalanya biasanya muncul dalam waktu 2-10 hari setelah terinfeksi, namun terkadang gejalanya hanya muncul setelah beberapa bulan.

  • Biasanya penyakit ini menunjukkan gejala setelah 2-10 hari berkontak yang menderita penyakit ini.Pada laki-laki umumnya penyakit ini ditandai dengan radang saluran keluar air seni dengan gejala nyeri sewaktu berkemih dan mengeluarkan cairan putih dari saluran kemihnya.Namun pengeluaran cairan putih, ataupun yang kuning, yang kental ataupun yang encer bisa disebabkan oleh kuman lain, sehingga sifat cairan ini tidak memastikan penyakit ini.
  • Sedangkan pada wanita menunjukkan gejala nyeri pada perut bagian bawah, keputihan dan kadang-kadang pendarahan yang tidak normal dari rahim serta rasa tak nyaman pada liang dubur.Namun semua gejala itu pun tidak khas bagi gonore, ia bisa juga disebabkan oleh penyakit lain sehingga perlu diperiksa dengan teliti.
  • Pada wanita infeksi gonore bisa berlanjut menjadi peradangan alat dalam panggul yang menjalar dari bibir rahim, kedalam rahim, ke saluran telur dan keseluruh alat dalam panggul, biasanya terjadi selama haid.Gejala penyakit ini meliputi demam dan nyeri perut bagian bawah.Mungkin juga terdapat pengeluaran cairan kekuningan dari dalam bibir rahim dan nyeri tekan pada rahim pada waktu pemeriksaan dalam atas alat-alat panggul.Radang alat-alat panggul bisa menyebabkan sterilitas ( mandul ), kehamilan diluar kandungan ( ektopik ) dan nyeri panggul yang menahun.
  • Selain komplikasi setempat pada laki-laki dan wanita, bisa juga terjadi komplikasi ditempat lain, akibat penyebarannya kuman gonore melalui darah, dan kira-kira 2/3 pasiennya wanita.Bisa terjadi radang sendi dan kulit yang ditandai demam, nyeri sendi dan bengkak sendi, menggigil serta kelainan kulit berbentuk gelembung dan nanah.Radang sendi melibatkan beberapa sendi, sering melibatkan sendi pergelangan tangan, jari-jari, sendi lutut dan sendi pergelangan kaki.Manifestasi lazim lainnya meliputi radang selaput pembungkus jantung ( perikarditis ), radang hati ( hepatitis ).Kadang-kadang terjadi radang lapisan dalam jantung dan selaput otak ( meningitis ).

Diagnosis Gonore ditegakkan berdasarkan hasil sampel yang diseka dari saluran kemih, dubur atau tenggorokan .Penting agar pasien tidak buang air kecil selama paling tidaknya 3 jam sebelum menjalani tesnya.
  • Sudah sangat jelas bahwa jika anda ingin terhindar dari penyakit ini adalah hindari s*ks bebas dengan berganti-ganti pasangan yang bisa saja sudah terinfeksi kuman gonore.
  • Hindari Perilaku s*ks yang menyimpang ( anal, oral ) yang makin meningkatkan risiko tertular kuman Gonore.
  • Gunakan pelindung ( kondom ) sebelum berhubungan s*ks guna meminimalisir tertularnya kuman penyakit Gonore atau penyakit lainnya.

Senin, 24 Maret 2014

Selasa, 11 Maret 2014

Nefrosklerosis

Berat dan besar ginjal bervariasi; hal ini tergantung jenis kelamin, umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi lain.Pada orang dewasa, rata-rata ginjal memiliki ukuran panjang sekitar 11,5 cm, lebar sekitar 6 cm dan ketebalan 3,5 cm dengan berat sekitar 120-170 gram atau kurang lebih 0,4% dari berat badan.
Nefrosklerosis, sebenarnya dignosis patologi anatomi. Pada  pemeriksaan USG kita dapat juga mengukur ukuran ginjal.

Selasa, 04 Maret 2014

Efusi Pleura Dekstra

Efusi Pleura Dekstra
Seorang pasien berumur 45 tahun datang dengan keluhan sesak, batuk, demam tidak begitu tingghi. Pasien sudah mengalami batuk selama satu bulan. Sudah berobat  dan dikatankan infeksi paru-paru.
Pada pemeriksaan fisik didapat frekuensi nafas 30 kali permenit, stem fremitus melemah di paru kanan, perkusi pekak di paru kanan dan pada auskultasi suara nafas di paru kanan melemah.
Pasien dilakukan USG, didapat adanya cairan di pleura.

Sabtu, 22 Februari 2014

Selasa, 12 November 2013

Selasa, 29 Januari 2013

TUBERKULOSIS PARU

Pengertian
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex  (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
Klasifikasi
    Berdasarkan Organ yang Terinfeksi
    TB PARU
    TB EKSTRA PARU
    Berdasarkan pemeriksaan dahak
    TB Paru BTA + : sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum BTA positif
    TB Paru BTA – : dari 3 spesimen sputum BTA negatif, foto toraks positif
    Berdasarkan Tipe Pasien dan riwayat pengobatan
    Kasus baru
    Kasus kambuh (relaps)
    Kasus drop out
    Kasus gagal
    Kasus kronik
    Berdasarkan organ ekstra paru yang terserang
    TB ekstra paru ringan : TB kelenjar limfe, TB tulang non-vertebra, TB sendi, TB adrenal
    TB ekstra paru berat : meningitis, TB milier, TB diseminata, perikarditis, peritonitis, pleuritis, TB vertebra, TB usus, TB genitourinarius
    Klasifikasi Tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis Association:
    Tuberkulosis minimal (minimal tuberculosis)
Luas sarang – sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median,apeks, dan iga 2 depan; sarang – sarang soliter dapat berada dimana saja, tidak harus berada dalam daerah tersebut di atas. Tidak ditemukan adanya kavitas
    Tuberkulosis Lanjut Sedang (Moderately advanced tuberculosis) :
Luas sarang – sarang yang bersifat bercak – bercak tidak melebihi luas satu paru, sedangkan bila ada lubang, diameternya tidak melebihi 4 cm. Kalau sifat bayangan sarang – sarang tersebut berupa awan – awan yang menjelma menjadi daerah konsolidasi yang homogen, luasnya tidak boleh melebihi luas satu lobus.
    Tuberkulosis sangat Lanjut (Far advanced tuberculosis)
Luas daerah yang dihinggapi oleh sarang – sarang lebih daripada Moderately advanced tuberculosis, atau bila ada cavitas, maka diameter keseluruhan semua cavitas melebihi 4 cm.

Diagnosis
Dari anamnesis didapatkan gejala klinik berupa
1. Gejala respiratorik
    Batuk-batuk > 2 minggu
    Batuk  darah
    Sesak  napas
    Nyeri  dada
2. Gejala sistemik
    Demam
    Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa,  pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, Pada meningitis tuberkulosa sesuai gejala meningitis. Sementara pada pleuritis tuberkulosa  gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan (tergantung derajat berat, organ terlibat dan komplikasi) : keadaan umum lemah, kaheksia, takipnea, febris, dan pada pemeriksaan fisik paru didapatkan tanda-tanda konsolidasi (dull, fremitus meningkat, suara napas bronchial atau melemah, ronchi basah/kering)
Dari pemeriksaan Laboratorium didapatkan LED meningkat
Dari pemeriksaan bakteriologik pemeriksaan Sputum (SPS) positif minimal 2 dari 3 spesimen dan untuk diagnosis pasti dilakukan kultur Mycobacterium tuberculosis positif
Dari pemeriksaan radiologik dilakukan Thorak PA, atau sesuai permintaan Top Lordotik, Lateral dan pemeriksaan CT Scan toraks
Dari pemeriksaan imunoserologis dilakukan tes Mantoux didapatkan positif > 15mm pada orang Indonesia yang imunokompeten
Diagnosis Banding
Pneumonia, infeksi jamur pada paru, tumor paru, penyakit paru akibat kerja
Pemeriksaan penunjang
•    Laboratorium : LED
•    Mikrobiologis : BTA sputum, kultur resistensi sputum
o    Pada kategori 1 dan 3 : sputum BTA diulangi pada akhir bulan ke 2, 4, 6
o    Pada kategori 2 : sputum BTA diulangi pada akhir bulan ke 2,5, 8
o    Kultur BTA sputum diulangi pada akhir bulan kedua dan akhir terapi
•    Radiologis : foto rontgen PA, lateral pada saat awal diagnosis dan akhir terapi dan selama terapi evaluasi foto setelah pengobatan 2 bulan dan 6 bulan.
•    Imunoserologis : Mantoux, ELISA, ICT TB (Immunochromatographic tuberculosis), Mycodot
•    Pemeriksaan Bactec
•    Polymerase Chain Reaction
•    Analisis cairan Pleura
•    Pem. Histopatologi

Penatalaksanaan
    Non medikamentosa
    Diet TKTP
    Surgical
    Istirahat, stop merokok, hindari polusi, tatalaksana komorbiditas, vitamin
    Medikamentosa
    Pemberian OAT sesuai kategori
    Pemberian obat simptomatik

Pencegahan
    Non Medikamentosa
    Gizi Seimbang
    Olahraga teratur
    Hindari kontak dengan penderita (masker)
    Tidak merokok
    Medikamentosa
    Imunisasi BCG
    Pemberian INH pada anak dengan riwayat kontak, skor TB 5
    Upaya pengendalian TB dengan metode DOTS
    Cegah terjadinya MDR dengan adanya Pengawas minum obat

Komplikasi
Komplikasi paru : atelektasis, hemoptisis, fibrosis, bronkiektasis, pneumothorax, gagal napas
Komplikasi ekstraparu : pleuritis, efusi pleura, perikarditis, peritonitis, TB KGB, kor pulmonal
Prognosis
Dubia : tergantung derajat berat, kepatuhan pasien, sensitivitas bakteri, gizi, status imun, komorbiditas

Senin, 28 Januari 2013

efusi pleura

EFUSI PLEURA
Pengertian
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan di rongga pleura (Price and Wilson, 1995).
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Efusi  pleura bukanlah suatu disease entity tapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita.
Terjadinya efusi pleura disebabkan oleh 2 faktor yaitu  :
Infeksi :
-          Tuberkulosis                                       -    Abses paru
-          Pneumonitis                                        -    Abses subfrenik
Non infeksi :
-          Karsinoma paru                                  -    Gagal ginjal
-          Gagal hati                                           -    Hipotiroidisme
-          Karsinoma mediastinum                      -    Kilotoraks
-          Tumor ovarium                                   -    Emboli paru
-          Karsinoma pleura : primer dan sekunder
-          Bendungan jantung : gagal jantung, perikarditis konstruktiva.
Etiologi
Menurut jenis cairan yang terakumulasi etiologi efusi pleura dapat dibedakan menjadi :
1.      Transudat ( filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh ).
Penyakit yang menyertai transudat :
-          Gagal jantung kiri.                              -    Asites pada sirosis hati.
-          Sindrom nefrotik.                                -    Sindrom meig’s (asites dengan tumor
-          Obstruksi vena kava superior.                                               ovarium).
2.      Eksudat ( ekstravasasi cairan kedalam jaringan ).
Cairan ini dapat terjadi karena adanya :
-          Infeksi                                                 -    Infark paru
-          Neoplasma/tumor



Penyakit-penyakit dengan efusi pleura
•    Pleuritis karena virus, mikoplasma, bakteri piogenik aerob dan anaerob, tuberkulosa, fungi (Actynomyosis, Koksidioimikosis, Aspergilus, Kriptokokus, Histoplasmosis,Blastomikosis), parasit (amoeba)
•    Efusi karena kelainan intraabdomen yang terjadi karena reaksi infeksi atau peradangan di bawah diafragma seperti eksaserbasi akut pankreatitis kronik, abses ginjal, abses limpa, abses hati, sirosis hepar,Sindrom Meig, Dialisis peritoneal (selama dan sesudah dialysis peritoneal)
•    Efusi pleura karena penyakit kolagen seperti lupus eritematosus, arthritis rematoid, skleroderma
•    Efusi pleura karena gangguan sirkulasi seperti gangguan kardiovaskular (decompensatio cordis, sindroma vena cava superior, perikarditis konstriktiva), emboli, hipoalbuminemia
•    Efusi pleura neoplasma seperti mesotelioma (tumor primer yang berasal dari pleura), karsinoma bronkus, neoplasma metastatic, limfoma maligna
•    Efusi pleura karena sebab lain seperti trauma, uremia, miksedema, demam familial mediteranian, sarkoidosis, reaksi hipersensitif terhadap obat, sindrom dressler (pleuritis dan perikarditis dapat terjadi setelah 1-6 minggu serangan AMI, RJP atau operasi kardiotomi. Cairan pleura atau pericardium yang timbul bersifat eksudat, steril, berwarna serosa atau hemoragik. Keadaan ini disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas myocardium dan pericardium terhadap tindakan atau pengobatan. Terapinya simptomatik karena bersifat self-limited
•    Efusi pleura idiopatik

Diagnosis
Dari anamnesis yang teliti untuk mencari secara jelas etiologinya. Pemeriksaan fisik dilakukan inspeksi tampak kesakitan dan terlihat gerak dada yang sakit tertinggal. Pada palpasi terasa gerakan dada pada sisi yang sakit tertinggal dan stem fremitus pada sisi yang sakit turun. Pada perkusi terdapat pekak pada basal paru yang sakit dan pada auskultasi terdapat VBS yang menghilang pada sisi yang sakit.
Pemeriksaan penunjang
•    Imaging (foto rontgen thorax, CT scan, USG thorax)
•    Torakosentesis (aspirasi cairan pleura) berguna untuk terapeutik dan diagnostik. Pelaksanaannya pasien duduk, aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior dengan menggunakan abbocath 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500cc pada setiap kali aspirasi karena bisa menyebabkan edema paru. Komplikasi dari tindakan ini adalah pneumothorax, hematothorax, emboli paru dan laserasi pleura viseralis. Untuk menegakkan diagnosis cairan pleura,dilakukan pemeriksaan warna dan jenis cairan (transudat, eksudat,hemoragik atau cylothorax), biokimia (kadar pH, glukosa, dan amylase, protein, LDH, BJ, Rivalta), sitologi, dan bakteriologi
•    Biopsi pleura
•    Untuk efusi yang sulit terdiagnosis bisa dilakukan analisis ulang, dan bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan tambahan yaitu bronkoskopi pada kasus neoplasma, korpus alienum, abses paru, scanning isotop pada kasus emboli paru, dan thoracoscopy (fiber-optic pleuroscopy) pada neoplasma dan tuberkulosis
Penatalaksanaan
•    Oksigen
•    Analisis gas darah
•    Torakosintesis
•    Water Sealed Drainage
•    Tindakan operatif bila cairan pus nya kental sehingga sulit keluar atau bila emfiemanya multilokular
•    Pengobatan antibiotika sistemik, tapi tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat
•    Untuk mencegah relaps efusi pleura dapat dilakukan pleurodesis dengan cairan tetrasiklin, bleomycin, korinebakterium parvum, tio-tepa, 5-fluorourasil

Komplikasi
Komplikasi dari tindakan penatalaksanaan yaitu edema paru, pneumotoraks, hemothoraks, nyeri pleuritik, demam, bisa sampai syok neurogenik

Prognosis
Tergantung penyakit yang mendasarinya

Jumat, 29 Juni 2012

Sengatan Panas

Sengatan panas atau Heatstroke, disebabkan oleh suhu lingkungannya yang tinggi, aktivitas tubuh yang tinggi yang menyebabkan suhu tubuh tinggi, bisa mencapai suhu 40 derajat celsius. Gejala serangan heatstroke termasuk mual, kejang, kebingungan, disorientasi, kadang-kadang penurunan kesadaran sampai koma. Sengatan panas dapat menyebabkan kerusakan otak dan organ lainnya. Gejalah yang timbul seperti, kelelahan berlebihan, sesak napas diikuti dengan sakit perut, gelisah, detak jantung cepat, pingsan dan mungkin muntah-muntah. Penanganan sengatan panas adalah dengan minum air yang tidak terlalu dingin, karena air yang terlalu dingin akan memicu reaksi negatif tubuh. Penderita sengatan panas dipindahkan di tempat yang dingin, longgarkan pakaiannya, dikupas tubuhnya, dikompres air hangat, kompres es. penderita diinfus dengan cairan NaCl fisiologis.

Kamis, 01 Desember 2011

Ginjal Bocor ?

Orang awam menyebutnya penyakit ginjal bocor, sedangkan istilah kedokterannya disebut sindrom nefrotik. sindrom nefrotik merupakan salah satu gambaran klinik penyakit glomerulus yang ditandai dengan proteinuria masif > 3,5 gram/24 jam/1,73 m3 disertai hipoalbuminemia, edema anasarka, lipiduria dan hiperkoagulabilitas. Yang dimaksud dengan bocor di sini adalah terdapatnya protein di urin, dimana seharusnya tidak dijumpai di urin. hal ini dikarenakan ginjal tak mampu menahan keluarnya protein dari ginjal.

Diagnosis
  • Anamnesis : bengkak seluruh tubuh, buang air kecil keruh
  • Pemeriksaan fisik : edema anasarka, asites
  • Laboratorium ; proteinuria masif > 3,5 gram/24 jam/1,73 m3, hiperlipidemia, hipoalbuminemia (<3,5 gram/dl), lipiduria, hiperkoagulabilitas. Diagnosis etiologi berdasar biopsi ginjal
Diagnosis Banding
Edema dan asites akibat penyakit hati atau malnutrisi, dignosis etiologi SN.

Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis, ureum, kreatini, tes fungsi hati, profil lipid, DPL, elektrolit, gula darah, homeostasis, pemeiksaan imunologi, biopsi ginjal, protein urin kuantitatif.

Terapi
Nonfarmakologis
  • Istirahat
  • Restriksi protein dengan diet protein0,8 gr/kgBB + ekskresi protein dalam 24 jam. Bila fungsi ginjal sudah menurun, diet protein disesuaikan hingga 0,6 kgBB ideal/hari + ekskresi protein urin/ 24 jam
  • Berhenti merokok
  • Diet rendah garam

Minggu, 13 November 2011

Keracunan Tetrin di RS DKT Curup

Seorang laki-laki, bujangan berumur 19 tahun, nekat minum racun tetrin kira-kira 2 sendok teh. Diduga nekat minum racun serangga ini karena putus cinta. Bujang nekat ini dilakukan bilas lambung oleh perawat emergensi RS DKT, dipasang infus.
Racun tetrin ini mengandung alfa sipermetrin 36 g/L. Merupakan racun kontak dan lambung, sedianya digunakan untuk membasmi ulat, serangga pada tanaman.
Kelompok insektisida ini mempunyai sifat khas untuk pengendalian serangga antara lain : efektifitas tinggi, kurang toksi terhadap mamalia, hilangnya efektifitas relatif cepat dan mempunyai efek Knock-Down cepat.
Sipermetrin suatu bahan kimia sentetis menyerupai pyerhrin pada ekstrak pyretrum yang berasal dari tanaman chrysanthemum.
Struktur kimia sipermetrin mengandung α-siano-3-fenoksibensil termasuk golongan piretroid. Piredtroid adalah racun axonix, yaitu beracun terhadapa serabut syaraf. Piretroid terikat pada protein pada syaraf yang dikenal sebagai voltage-gate sodiun chanel. Pada keadaan normal, protein membuka untuk memberikan rangsangan pada syaraf dan menghentikan sinyal syaraf. Piretroid terikat pada gerbang ini, dan mencegah menutup secara normal yang menghasilkan rangsangan syaraf secara berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan tremor dan gerakan in-koordinasi pada serangga.
Penanganan penderita dilakukan bilasan lambung dan terapi simptomatik pada penderita ini.